TERTUNDA
Namaku Radit Prasetyo. Umurku 20
tahun. Aku tinggal dengan keluarga yang keadaan ekonominya lebih dari cukup.
Aku dan keluargaku pindah rumah ke Jakarta menggunakan mobil pribadi dengan
merk Avanza, selama perjalanan di Jakarta aku melihat seorang Kakek tua dengan
rambut berwarna putih disertai pakaian berwarna coklat dan hitam sedang
berusaha memperbaiki roda pada delman yang rusak.
“Ayah
stop dulu”.
“Ada
apa dit ? koq suruh ayah berhenti ? kamu mau kemana ?”.
“Pokonya
Ibu sama Ayah tunggu dimobil saja” kataku. Aku bergegas membuka pintu mobil dan
mendekati kakek tua tersebut.
“Kakek
apa yang terjadi dengan delman kakek?” tanyaku heran.
“Ini
de, roda delmannya bocor, jadi harus Kakek perbaiki!” jawab kakek sambil
mengganti roda delman.
“Biar
saya aja kek yang memperbaiki rodanya, sebaiknya kakek istirahat saja.
Keliatannya Kakek kecapean”.
“Tidak
usah repot-repot de, Kakek masih bisa” jawabnya dengan nada bicara serak
disertai batuk-batuk.
“Tidak
apa-apa kok kek, saya ikhlas bantuin Kakek. Pokonya Kakek duduk dulu aja, biar
saya yang memperbaiki roda pada delman ini”.
Kakek
akhirnya mau untuk istirahat sejenak. Ketika aku memperbaiki roda pada delman,
Kakek bertanya
“Ade
kelihatannya bukan orang Jakarta”.
“Ya
kek. Saya baru pindah dari Surabaya. Sebenarnya saya gak mau pindah dari
Surabaya, tetapi karena Ayah ada urusan pekerjaan yang mungkin akan lama untuk
selesainya, terpaksa saya dan keluarga saya pindah ke Jakarta. Kakek udah
berapa lama tinggal di Jakarta?”.
“Sejak
kecil Kakek sudah tinggal di Jakarta. Kalau boleh tau nama ade siapa?”tanya
kakek.
“Nama
saya Radit Prasetyo. Tapi bisa dipanggil Radit. Kalau boleh tau juga, nama
Kakek siapa?” jawabku dengan suara rendah.
“Nama
Kakek Jarwo. Tapi panggil aja Pa De Jarwo”.
Setelah
beberapa saat terdiam, akhirnya aku selesai memperbaiki roda pada delman milik
Pakde Jarwo.
“Ini
Pakde, sudah selesai diperbaiki” kataku sambil membersihkan pakaian dan tangan
yang kotor.
“Terima
kasih ya de. Maaf Pakde tidak bisa membalas apa-apa. Nak Radit sudah banyak
membantu Pakde. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan nak Radit”.
“Amin.
Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi ya Kek” aku berjabat tangan dengan
Kakek.
Dari
kejauhan Ibu memanggilku.
“Radit
ayo kita berangkat . Sudah jam dua nih” teriak Ibu dari kejauhan.
Aku
langsung memandang Kakek.
“Pakde
saya pamit. Assalamualaikum”.
“Iya
de, Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan”.
Aku
bergegas menuju mobil dan segera pergi ke tempat tujuan yaitu ke rumah baru.
Tak terasa waktu menunjukkan angka
empat. Dan akhirnya tiba disebuah rumah yang besar bertingkat dua dengan
dinding berwarna biru langit ditambah pagar yang berwarna hitam disertai dengan
teras yang penuh dengan tanaman. Segera Ayah memasukkan mobil ke garasi. Aku
pun turun dari mobil dengan perasaan bahagia karena sudah sampai di tempat
tujuan. Aku keluarkan semua barang-barang dari bagasi mobil.
“Radit
bantuin Ayah masukin barang-barang ke rumah. Ayah udah cape banget nyetir mobil
seharian”ketus Ayah dengan mata merah, rambut kucel, dan pakaian yang kusut.
Segera
kami memasukkan barang-barang ke dalam rumah. Didalam rumah suasana terasa
sejuk dan dingin, dan terdapat beberapa ornamen lukisan yang indah. Aku membawa
barangku dan segera masuk ke kamar. Ku rebahkan tubuhku sejenak di kasur yang empuk dan nyaman. Tetapi aku
segera bangun dan memberaskan barang-barangku. Tanpa ku sadari, waktu
menunjukkan pukul lima petang. Aku pun segera mandi.
Terdengar suara wanita dari arah
lantai bawah memanggilku.
“Radit
ayo makan, Ibu sudah siapkan Ayam goreng nih”.
Segera
aku menuju ruang makan, dan terlihat seorang wanita berumur 35 tahun, rambut
sebahu disertai pakaian bercorak bunga.
“Asikkk...
pasti enak nihh” kataku dengan girangnya.
Suasana diruang makan diam untuk
sejenak, terdengar suara hembusan nafas dari sang Ibu, sepertinya ibu ingin
mengatakan sesuatu.
“Radit
?” nada suara Ibu rendah.
“Ada
apa ibu ?” tanyaku heran.
“Ibu
sudah daftarkan kamu ke kuliah dengan jurusan elektro”.
“Apa
? Kok Ibu bisa berbuat seperti itu ?” kataku dengan suara keras sambil memukul
meja.
“Ibu
berbuat begini karena Ibu pingin kamu mempunyai keahlian elektro, sama seperti
Ayahmu”.
“Tapi
bu ...”
“Gak
ada tapi-tapian, Ibu sudah terlanjur mendaftarkan kamu”
Aku langsung memasuki kamar dan
membanting pintu keras keras. Aku langsung berbaring di kasur sambil memejamkan
mata. Ku lihat ke luar jendela, beribu bintang bertaburan di angkasa dengan
terangnya. Deru angin menerpaku dengan tenang. Ku bertanya kepada
bintang-bintang dilangit. “Apakah keputusan yang dibuat oleh orang tuaku adalah
keputusan yangn terbaik ?”. Aku hanya pasrah dengan keadaan yang telah orang
tuaku buat. Semooga keputusan itu menjadi yang terbaik untukku.
Ku terbangun di pagi hari dengan
mata yang sulit untuk terbuka. Ku membuka jendela dan terdengar suara ayam berkokok
. Sinar mentari menyemburku dengan terang. Sejuknya angin membuat buluku
merinding . Aku langsung membereskan tempat tidurku dan segera mandi untuk
pergi kuliah. Tetapi dalam batinku aku merasa malas untuk pergi kuliah karena
keputusan orang tuaku yang membuatku kesal. Setelah selesai mandi dan
berpakaian, aku pun segera keluar dari kamar. Aku segera pergi ke meja makan
dan sudah terlihat kedua orang tuaku mengguku untuk sarapan pagi bersama. Aku
langsung duduk dan segera mengambil roti tawar ditambah dengan selai coklat.
Aku hanya terdiam saja, tiba-tiba Ayah bertanya kepadaku.
“Radit
sudah siap pergi kuliah ?”.
“Ya
ayah” jawabku dengan raut muka yang malas.
“Kok
Radit kaya males gitu ? ga seneng ya ibu daftarkan kamu ke jurusan elektronik
?”tanya Ibu.
“Gak
kok bu, Radit seneng kok bu” jawabku dengan senyum terpaksa.
“Ibu
kira kamu ga seneng”senyum Ibu melebar.
“Ayah
sudah siapakan motor Ninja buat kamu. Motornya ada di garasi” kata Ayah.
Setelah selesai sarapan aku langsung
ke garasi untuk mengambil motor. Ibu pun mengikuti dari belakang.
“Bu
aku berangkat dulu. Assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam,
hati-hati dijalan nak”.
Aku
langsung berangkat dengan kecepatan 30 km/jam. Selama perjalanan, aku selalu
terbayang apa yang akan terjadi di kampus. Apakah siswa di kampus baik, sopan
dsb ? semua terbayang dibenakku.
Akhirnya aku sampai di sebuah kampus
dengan bangunan tingkat tiga. Aku memarkirkan motor dan segera mencari ruangan
fakultas tekhnik jurusan elektro. Setelah menemukan ruangannya, aku segera
masuk dan bertanya kepada dosen.
“Permisi
pak, apakah ini ruangan dengan jurusan elektro ?”.
“Ya
ini ruangan jurusan elektro. Silahkan masuk. Anak-anak ini adalah teman kita
yang baru, dia asalnya dari Surabaya. Ok silahkan perkenalkan diri kamu”.
“Nama
saya Radit Prasetyo, biasa dipanggil Radit. Aku lahir di Surabaya pada tanggal
23 Agustus 1992” Jawabku dengan gugup.
“Ok
Radit silahkan kamu duduk disebelah Muhammad Bima Wicaksono”.
“Baik
pa” jawabku.
Aku
langsung duduk disebelah Bima, Bima langsung menatapku.
“Haii
nama gue Bima. Loe kan anak baru jadi gue bakalan ngasih tau loe
ruangan-ruangan yang ada di kampus ini”.
“Iya”
kataku sambil mengeluarkan buku untuk belajar.
Setelah aku diperlihatkan
ruangan-ruangan yang ada di kampus ini, aku segera ke parkiran untuk mengambil
motor dan segera pulang. Tetapi pandanganku beralih ke arah seorang wanita
dengan memakai jilbab berwarna orange dengan baju berwarna merah disertai
celana jeans berwarna Biru dongker sedang membetulkan motor yang sedang mogok. Aku
menghampiri wanita tersebut, ketika aku mendekat, cewek tersebut mengalihkan
pandangannya ke arah ku.
“Loe
yang anak baru itu ya ? kenalin nama gue Nurul Virginia Suci. Panggil gue Nurul
aja”katanya dengan tatapan sinis.
“Iya
aku yang anak baru itu. Nama aku Radit Prasetyo, Mau aku bantuin ga ?”
“Gak
usah .... MAKASIH.. “ jawabnya dengan sikap sombong.
“Yakin
nih?”tanyaku sambil tersenyum kecil.
“YAKIN...”jawabnya
dengan nada suara keras.
Aku langsung pergi meninggalkan
Nurul dan baru ku sadari, dia adalah siswa yang sekelas denganku. Selama
perjalanan pulang menuju rumah, aku selalu membayangkan Nurul. Wanita ini
selalu membuatku penasaran.
Beberapa hari kemudian aku melihat
Nurul sedang berjalan kaki. Aku mendekatinya untuk mencoba mengajak pulang
bersama.
“Pulang
bareng aku yuk”.
“Ga
usah, makasih, aku lebih baik jalan kaki saja”jawabnya dengan muka pucat.
“Yakin?”.
“Ya
yakin”.
Ia
langsung melangkahkan kaki pergi meninggalkanku. Ketika baru setengah jalan,
aku melihat Nurul langsung tergelatak tak berdaya di sisi jalan. Aku segera
membawanya ke dokter. Terpaksa aku menggunakan motor karena kebetulan tidak ada
mobil di daerah tersebut. Di sisi lain datang seorang wanita dengan dengan
pakaian berwarna pink tua dengan rambut sepunggung berwarna coklat menghampiriku
dan setelah diperhatikan dia adalah Greta Elizabeth.
“Radit
ayo pulang bareng”.
“Kamu
gak liat aku sama siapa”jawabku dengan nada keras.
“Ngapain
sih kamu ngurusin gembel ini”.
“Greta
cukup. Jangan pernah panggil Nurul seperti itu lagi”.
Aku langsung menancapkan gas dan
pergi meninggalkan Greta yang terdiam di sisi jalan. Setelah sampai di rumah
sakit Anugerah dan setelah diperiksa Nurul hanya kecapean. Dia hanya butuh
istirahat. Aku pun mengantarkan Nurul pulang ke rumahnya. Nurul pun masuk ke dalam
rumah. Tetapi pandanganku tertuju ke arah lain, ternyata Nurul tinggal bersama
Pakde Jarwo. Tuhan telah mempertemukanku dengan Pakde Jarwo lagi.
“Radit
makasih atas semuanya”.
“Ga
papa kok, kita sesama teman harus saling membantu”.
“Ya
sudah aku masuk duluan. Hati-hati di jalan”
Aku langsung menyalakan motor dan
segera pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku merasakan hatiku selalu
berdeg-degan bila berada di dekat Nurul. Aku jadi sering memikirkan Nurul,
sering mengkhawatirkan Nurul, sering terbayang Nurul di pikiranku. Dan telah ku
sadari, aku jatuh cinta kepada Nurul.
Keesokan harinya aku bercerita
kejadian kemarin kepada Bima. Sekarang Bima sudah menjadi sahabatku.
“Bim,
kemarin Nurul Pingsan”
“Apa
?? ciusss ? beneyan ? mie apa ? kok bisa ? dia gimana keadaannya sekarang”
tanyanya panik.
“Iya,
ciusss, beneyan, miegoyeng. Hahahaha jadi korban iklan nihh. Kemarin aku sudah
bawa dia kedokter katanya Nurul cuman kecapean aja”
“Huuhh
syukurlah” katanya dengan perasaan lega.
“Memangnya
kenapa ? kok kamu sampai begitu paniknya ? kamu suka ya sama Nurul ?” kataku.
Muka Bima langsung memerah dalam sekejap.
“Ngaakkkkkkkkkkkk”
katanya sambil pergi meninggalkanku.
Perasaan yang timbul pada hatiku
untuk Nurul sudah tidak bisa ditahan lagi. Setelah pulang kuliah, rencananya
aku akan menyatakan cinta kepada Nurul. Aku akan bertemu Nurul disebuah taman
dekat kampus. Setelah aku sampai ditaman, Nurul pun datang dengan raut muka
yang sedih. Nurul pun duduk disebelahku dan aku segera merangkulnya.
“Apa
yang terjadi ?” tanyaku.
“Kakek...
Kakek masuk rumah sakit. Tadi kakek batuk darah” jawabnya disertai air mata
yang mengalir deras dipipinya.
“Aku
antarkan kamu ke rumah sakit ya” kataku dan Nurul pun mengiyakannya.
Di
sisi lain, datang seorang wanita yang sangat menyebalkan bagiku dan bagi Nurul
yaitu Greta L.
“Radit
jangan dengerin omongan dia, dia tuh cuman akting agar bisa deketin loe”
katanya dengan raut muka emosi.
“Ayo
Nurul jalan saja, jangan dengerin Kucing garong ini”
Aku pun mengantarkan Nurul pergi ke
rumah sakit Anugerah tempat Pakde Jarwo di rawat. Sebelum sampai di rumah sakit
aku dan Nurul menyempatkan diri untuk membeli buah-buahan. Setelah sampai di
rumah sakit, Nurul pun masuk ke dalam rumah sakit dan mengucapkan “Sampai
ketemu lagi” itulah yang dia ucapkan dengan muka memerah. Aku langsung pulang
tetapi niatku untuk menyatakan cinta gagal. Mungkin ini bukan waktu yang tepat.
Hari-hari berikutnya terasa sepi
tanpa senyumnya yang manis, tanpa sobongnya, tanpa judesnya. Hingga suatu saat
kami akan melakukan wisuda. Nurul mendapat nilai terbaik di kampus. Nurul
datang bersama Pakde Jarwo dengan gagahnya memakai setelan jas berwarna hitam
dilengkapi dengan dasi yang berwarna merah menambah kegagahan Pakde. Aku,
Nurul, dan Pakde foto bersama. Kulihat muka Nurul memerah ketika berada
didekatku. Aku juga melihat Bima sangat keren ditemani kedua orang tuanya.
Tiba-tiba datang seorang wanita yang cantik yaitu Greta.
“Dit
gue mau minta maaf atas kelakuan gue terhadap loe. Gue tuh suka sama loe,
tetapi akhirnya gue nyadar kalau loe tuh ga suka sama gue. Gue malah suka sama
Bima you’re best friend. Dan akhirnya gue jadian deh sama Bima”.
“Hahaha
aku do’ain semoga kalian berdua langgeng bahagia selamanya”.
“Iya
makasih ya dit. Sorry gue harus pergi bareng nyokap bokap gue ke Amerika. Dan
kebetulannya Bima juga mau ke Amerika jadi hubungan pacarnnya ngak jauhhh”
“Ya
sudah, hati-hati dijalan ya”
Greta pun pergi bergandengan tangan
dengan Bima. Di tempat wisuda lah aku terakhir bertemu dengan Bima. Mereka
pergi menggunakan mobil Kijang Innova. Sementara itu aku sudah siap untuk
menyatakan cinta lagi kepada Nurul. Tetapi niatku ku hentikan karena kondisi
Pakde Jarwo kejang-kejang sehingga orang-orang yang berada di dekatnya segera membawanya
ke rumah sakit Anugerah. Setelah menunggu di ruang tunggu dokterpun keluar dari
ruangan. Dokter menyampaikan keadaan Pakde Jarwo bahwa Pakde Jarwo mengalami
penyakit jantung dan Pakde telh meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.
Nurul rtak kuasa menahan air matanya yang mengalir deras di pipinya. Akibat
terlalu shock mendengar kabar tersebut, Nurul pun pingsan dibawah penderitaan
yang amat pedih baginya. Aku pun merasakan kepedihan yang amat dalam. Pertama
aku kehilangan Pakde Jarwo. Walaupun Pakde bukan kakek ku, tetapi aku telah menganggap
Pakde Jarwo adalah Kakek ku sendiri. Kedua aku gagal lagi untuk menyatakan
cinta.
Keesokan harinya Pakde Jarwo
dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kebon Jeruk. Isak tangis Nurul tak
henti-hentinya menangisi kepergian kakek tercintanya.
“Nurul
kamu harus merelakan kepergian Pakde Jarwo. Bila kamu terus menangis Pakde juga
ikut menangis, jadi kamu harus semangat J” kataku.
Akhirnya
Nurul menjadi lebih tenang. Aku pun mengantrakan Nurul ke Bandara
Soekarno-Hatta pada pukul 10 pagi karena Nurul akan melanjutkan sekolahnya di
Australia. Setelah sampai dan membeli tiket, kami duduk sejenak menunggu
keberangkatan pesawatnya. Kali ini aku akan menyatakan cinta lagi tetapi waktu
telah memisahkan kita dalam sebuah keharuan. Nurul pun mengucapkan “Selamat
tinggal” aku tahu ia pergi dibalut oleh kesedihan karena di tinggal pergi oleh
kakeknya dan Aku. Aku tau Nurul mencintai ak, aku bisa melihat dari
pandangannya. Walaupun cintaku tertunda, aku akan selalu menunggu Nurul hingga
waktu mempertemukan kita kembali dalam sebuah ikatan cinta kasih.
J J J~ SELESAI ~ J J J
hahay mantap ki.. :D
BalasHapusnih ki blog punya aku, nurarifin88.blogspot.com
BalasHapus